Maksimalkan Leadership Agar Karier Berkembang



Leadership atau kepemimpinan sebenarnya ada dalam diri setiap orang. Hanya saja perlu dimaksimalkan jika ingin menjadi individu yang bertumbuh, termasuk dalam karier. Konsep leadership bisa dikuatkan oleh diri sendiri. Caranya dengan menggali kekuatan yang ada dalam diri. Kenali dengan mencari tahu apa yang paling Anda suka dan apa tujuan Anda.

Coach Margetty Herwin, General Manager iCOACH mengatakan sukses lahir dari 88 persen kekuatan jiwa seseorang (heart and spirit). Kekuatan ini harus digali dari sesuatu yang abstrak menjadi lebih real. Caranya? Coach Getty, panggilan akrabnya, selanjutnya mengatakan untuk memaksimalkan leadership perlu dilakukan hal berikut ini:

Melepaskan mental block
Setiap orang bisa saja menjadi pemimpin. Namun tak semuanya mampu menjadi pemimpin yang efektif. Coach Getty mengatakan lepaskan lebih dahulu mental block atau sesuatu yang menghambat seseorang untuk berkembang.

Kenal diri
Fokuskan pikiran pada kekuatan dalam diri. Hanya dengan cara ini, seseorang bisa menggali dirinya dan kemampuan kepemimpinannya. Mulailah meninggalkan kebiasaan kebanyakan orang, yang lebih sering berfokus pada kelemahan.

Latih kemampuan leadership
Coach Getty menyebutkan ada tujuh pilar yang perlu dilatih menjadi mindset Anda untuk memaksimalkan kepemimpinan. Anda bisa melatihnya sendiri atau dengan bantuan orang lain seperti profesional (coaching). Ketujuh pilar untuk mencapai sukses itu diantaranya:

1. Temukan alasan dan tujuan dari sukses yang Anda inginkan.
2. Yakini bahwa Anda hanya akan menemukan hasil dan bukan kegagalan.
3. Ambil alih tanggungjawab apapun yang terjadi.
4. Kuasai masalah dalam bidang apapun.
5. Rekrutlah orang yang Anda tahu memiliki kualitas profesionalisme baik dan pengetahuan luas.
6. Jadikan pekerjaan dan atau bisnis sebagai aktivitas yang menyenangkan.
7. Komitmen yang kuat pada pekerjaan.

Mental Block Bikin Karier Stagnan?



Merasa puas dengan keadaan bisa bermakna negatif. Apalagi jika ternyata kepuasan itu menghambat diri sendiri untuk berkembang. Zona nyaman dengan karier yang stagnan dianggap lebih aman. Ini menjadi pertanda, mental block tengah menguasai diri.

Coach Margetty Herwin dari iCOACH, yang akrab disapa Getty, mengatakan karier tidak akan bertumbuh lebih maju jika seseorang belum mampu mengatasi mental block dalam dirinya.

"Jika seorang karyawan ditawarkan kesempatan untuk menduduki posisi baru yang lebih menantang misalkan, lalu ia menolaknya karena zona nyaman saat ini, berarti ada mental block dalam dirinya," papar Coach Getty usai seminar bertemakan "Leadership Skills for Excellent Performance" yang diadakan Event Management Indonesia bekerjasama dengan iCOACH di Restoran Sindang Reret, Jakarta, Kamis (4/3/2010).

Menurut Coach Getty, seseorang mengalami mental block atau tidak, bisa dilihat dari caranya berpikir dan memandang masalah.

"Seseorang yang terbuka dan periang biasanya lebih mampu mengembangkan dirinya. Sedangkan seseorang yang pendiam, introvert, pendendam, menyimpan masalah lama yang sudah lewat, cenderung memiliki mental block dalam dirinya," jelas Coach Getty.

Mental block harus diperangi dalam diri orang itu sendiri. Artinya, betapa pun Anda dibantu oleh orang lain, namun bila tidak ada kesadaran dalam diri untuk menghancurkan mental block, rasanya akan percuma, kata Coach Getty.

Membuat diri sendiri lebih terbuka dan berani berkembang adalah dengan melepaskan mental block, seperti trik berikut ini:

1. Melatih komunikasi
Melatih kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu cara yang diterapkan Coach Getty kepada mahasiswanya di Politeknik Universitas Indonesia. Sebagai dosen, Coach Getty mengaku caranya mengajak seorang individu untuk berkomunikasi mampu membangun keberanian. Dengan cara ini pula, kekhawatiran seseorang untuk berekspresi atas dirinya mulai beralih kepada pengenalan kekuatan dalam diri. Berlatih komunikasi juga berarti mengajak individu untuk berterus-terang. Dengan memiliki karakter terbuka, berani terus-terang, seseorang bisa lebih mengenal apa yang diinginkan dalam hidupnya.

2. Mengurangi beban masa lalu
Memfokuskan perhatian pada apa yang sudah terjadi di masa lalu hanya akan membuat energi terkuras. Karena, seseorang cenderung dikuasai rasa khawatir akan pengalaman tak menyenangkan di masa lalu. Ketidakmampuan melepas masa lalu kemudian menghambat seseorang untuk membangun dirinya. Akibatnya, seseorang menjadi pendendam dari pengalaman pahit yang pernah dialaminya.

3. Penerimaan atas diri dan orang lain
Kemampuan untuk menerima orang lain membantu seseorang untuk lebih terbuka. Kesulitan komunikasi juga dipengaruhi faktor ini. Seseorang akan sulit melatih komunikasi jika tidak terbuka dengan orang lain. Dengan mengakui adanya karakter yang berbeda, seseorang bisa melepaskan mental block dan membangun keberanian untuk menghadapi masalah.

4. Jujur dengan siapa pun yang dipercaya
Jika kembali kepada kemampuan komunikasi, kejujuran menjadi faktor penting. Mengakui dengan jujur apa yang tidak disenangi dan atau apa yang paling diinginkan dalam karier dan kehidupan, bisa membantu mengatasi masalah. Tentu saja, sikap jujur tidak serta-merta diobral kepada siapa saja. Menjadi jujur kepada orang yang dipercaya, mampu membantu seseorang melepas mental block dalam diri.

Motivasi, Sumber Energi Saat Bekerja



Banyak orang setuju bahwa motivasi itu bagai misteri. Kita pun sering tidak mengenal penuh motivasi dalam diri kita. Apa yang membuat saya bersemangat? Apa yang membuat saya melompat dari tidur saya di pagi hari? Apa yang membuat saya ceria mengerjakan sesuatu walaupun badan lelah?

Beberapa teori utama yang membahas kebutuhan manusia juga seringkali bisa tidak relevan dengan motivasi orang bekerja di masa sekarang. Betulkah untuk merangsang para salesman diperlukan "upah komisi" saja? Apakah seorang salesman tidak punya keinginan berprestasi sendiri, menghargai dirinya, serta mencintai pekerjaannya? Apakah tidak ada di antara kita, orang yang sangat bersemangat melakukan sesuatu atau menjual produk tanpa terlalu hitung-hitungan mengenai berapa imbalan yang ia dapat? Bukankah kita melihat bahwa banyak sekali orang, demi passion-nya juga tidak menunggu sandang-pangan-papan-nya cukup, untuk menghasilkan karya-karya yang hebat? Sebaliknya, kita juga banyak melihat gejala di mana individu yang mendapatkan gaji yang relatif cukup malah tidak tergerak mengejar target. Dengan kata lain, berhenti di kepuasan fisik dan rasa aman saja.

Memang ada orang dan tim yang tidak mementingkan untuk menghidupkan motivasinya secara optimal, bahkan mungkin tidak merasa bahwa motivasi itu penting. Namun, dalam tuntutan situasi seperti sekarang, sulit dibayangkan bila individu, tim dan perusahaan, hanya mengandalkan kekuatan pikir dan fisik saja. Kreativitas dan value adding mustahil berkembang jika tidak didukung motivasi individu dalam kelompok atau organisasi. Bahkan, nilai motivasi bisa jadi lebih besar pengaruhnya terhadap keberhasilan, daripada nilai kompetensi lainnya. Mungkin ini sebabnya instansi pemerintah pun mulai memperhitungkan motivasi pegawai negeri dalam pengembangan sumber dayanya.

Tumbuhkan “Sense of Progress”
Seorang ahli manajemen membuat penelitian terhadap 12.000 karyawan, yang terdiri atas pekerja kasar sampai para eksekutif. Ia menemukan sense of progress sebagai hal yang paling membuat karyawan ingin maju dan berprestasi ketimbang faktor lain, seperti support internal, teknikal, serta kolaborasi tim. Mungkin ini juga alasan bahwa perusahaan-perusahaan servis yang mengandalkan antusiasme karyawannya mengumumkan secara terbuka pencapaian penjualan hariannya, agar setiap karyawan jelas merasakan milestone perusahaan, sedang maju, jalan di tempat, atau mengalami penurunan.

Bagaimana dengan pekerjaan yang dianggap rutin dan sulit diukur kemajuannya? Seorang karyawan bisa saja mengatakan, “Dari tahun ke tahun, saya menyajikan laporan keuangan bulanan terus. Pekerjaan saya memang itu-itu saja.” Bayangkan, betapa sulitnya menjaga motivasi teman kita ini. Dan bayangkan betapa orang semacam ini cepat berkarat dan tua sebelum waktunya. Untuk pekerjaan-pekerjaan rutin, jalan terbaiknya adalah memberi perasaan pada teman-teman kita ini bahwa kesempatan belajar selalu ada. Pertanyaan atau bahkan berbagai tantangan bisa kita berikan seputar pekerjaannya, sehingga setiap individu merasakan progress belajar dalam dirinya.

Genggam “passion”
Tidak jarang kita temui orang yang sangat pede, tapi tidak terlihat antusias. Profesional yang berbakat dan trampil sekalipun bisa saja tidak bersemangat. Teman saya seorang pemain bola basket yang berbakat, terpaksa harus menghentikan kariernya sebagai pemain nasional, setelah menemukan bahwa kedua belah kakinya tidak sama panjang. Teman kita yang seharusnya jatuh mentalnya ini, ternyata tidak jadi kehilangan semangat, bahkan akhirnya merintis kariernya menjadi pelatih. “Saya tidak pernah lepas menggenggam basket. Mengapa harus berhenti?” kata teman kita ini.

Kita tahu bahwa hambatan pasti dihadapi setiap orang dan terkadang bisa menjatuhkan mental. Namun, sepanjang individu punya kecintaan dan minat yang kuat terhadap substansi tertentu, ia senantiasa bisa menemukan jalan untuk membakar antusiasmenya terus-menerus, dan tidak berhenti berkarya.

Teman kita ini juga menambahkan, “Fokus pada diri sendiri tidak boleh terlalu berlebihan, karena situasi seperti ini membuat kita tidak bisa memperhatikan dan bekerja untuk orang lain di sekitar kita.“ Ya, mana mungkin kita mengeluarkan prestasi terbaik, jika tujuan kita semata untuk kepentingan pribadi? Dengan memperluas minat dan kepedulian pada keadaan di sekitar kita dan kebutuhan orang lain, sumber energi kita tentu akan terus terisi, bahkan bertambah besar.

Motivasi itu dinamis
Orang yang malas sering kita sebut sebagai orang yang tidak punya motivasi. Dengan pandangan ekstrem seperti ini, kita seakan punya beban berat jika diberi tugas untuk menanamkan motivasi dalam diri seseorang atau sebuah tim. Sebaliknya, kalau kita membayangkan bahwa motivasi itu bagaikan sebuah sumber energi dalam tubuh kita, kita bisa melihat bahwa motivasi akan selalu ada dalam diri tiap orang. Ada orang yang sumber energinya kuat, ada yang sumber energinya lemah. Ada orang yang mampu konsisten menjaga sumber energinya tinggi, namun ada juga yang grafik energinya naik-turun.

Hal yang "magic" adalah bahwa bahwa energi yang kuat dari seseorang bisa menular pada orang lain. Kita tahu bahwa hawa bersemangat dari seorang pemimpin bagaikan virus yang bisa segera menyebar, membuat orang lain merasa ringan dalam bekerja, bahkan membuat tim jadi kuat mendobrak dan mendorong hasrat pemecahan masalah kreatif.

Jadi, sebetulnya tidak sulit juga membawa organisasi pada suasana motivasional. Dengan menikmati pekerjaan kita, melihat kekuatan tim dan berpikir positif, mengajak teman-teman untuk selalu berpikir maju, pastinya hawa tim akan berubah dan bisa segera mengangkat energi dari orang-orang lain di sekitar kita juga.

Motivasi itu dinamis, mengalir, dan bergerak. Tantangan pun tidak usah dicari-cari lagi jika kita terbiasa berkomunikasi efektif, sehingga kritik dan evaluasi bisa terus masuk. Sebagaimana sering kita baca: “Motivation requires a delicate balance of communication, structure, and incentives“.